TANAH MILIK JACOBUS SAMPOUW di KELURAHAN KENDIS, WULAUAN, LELEMA DIDUGA DISEROBOT

TANAH MILIK JACOBUS SAMPOUW di KELURAHAN KENDIS, WULAUAN, LELEMA DIDUGA DISEROBOT

679
0
Jakobus Sampouw Anak Dari Jan Maalangen Sampouw (alm)(kiri) Siska Sampouw Anak Dari Jacobus Sampouw (kanan)

TONDANO, NORTHSULAWESIPOST.COM – Berdasarkan bukti surat kepemilikan yang ada pada kami, beberapa bidang tanah yang berada di kelurahan Kendis, Wulauan serta Lelema itu adalah milik keluarga kami. Tapi sekarang sebagian tanah tersebut telah diserobot oleh Harry Paat. Dia yang telah menduduki, mengambil alih kuasa kepemilikan, menjual serta mengklaim bahwa tanah itu miliknya.

Demikian pernyataan yang disampaikan oleh Jacobus S. Sampouw kepada northsulawesipost.com saat ditemui di rumah saudarinya di  kelurahan Katinggolan Tondano Timur pada Senin (14/05/2018).

Dugaan penyerobotan tanah milik keluarga Jacobus Sampouw tersebut mencuat, ketika Siska Sampouw anaknya, yang adalah sebagai ahli waris terhadap tanah-tanah tersebut pulang ke kampung halamannya di kelurahan Kendis untuk mencari milik ayahnya itu. Kepada media ini, Siska pun mengatakan terkejut, karena ternyata tanah-tanah yang akan diwariskan kepadanya itu, sebagiannya telah dijual dan sebagiannya lagi telah dikuasai oleh Harry Paat, dan orang lain.

Akhirnya, penelusuran pun dimulai oleh sang penerima waris. Alhasil, sang penerima waris menemui berbagai kendala dalam misi pencariannya itu, terutama dari Lurah-lurah di dua kelurahan yang ditemuinya, yaitu dari lurah Kendis dan lurah Wulauan yang dianggap Siska kurang membantu.

Parahnya lagi kata Siska dalam penelusurannya, ada lurah yang malahan membentak-bentak dirinya. Yang membentaknya adalah lurah Kendis, sedangkan lurah Wulauan menurut Siska lurah hanya belum bisa membantunya dalam rangka pengukuran dan pembuatan setifikat terhadap bidang tanah yang berada di kelurahan Wulauan.

“Kendalanya jelas sekali, terutama dari pejabat pemerintahan setempat yaitu Lurah Kendis Jeiny Lumoindong dan Febi Lasut lurah Wulauan. Lurah Wulauan memang membantu saya memperlihatkan buku register desa yang ditemani perangkat desa dan tua-tua kampung, tapi yang ditunjukin hanya sebagian saja. Dan dari sebagian yang ditunjukan itu, saya lihat bahwa dalam buku register tersebut memang tertulis jelas nama pemiliknya adalah Laurens Koroh, orang tuanya oma Penina istri Charles Sampouw yang adalah opa papa saya Jacobus Sampouw,” kata Siska.

“Lanjut Siska, “tapi sayangnya saat  saya ingin bantuan dari lurah untuk nunjukin di mana batas-batas tanahnya, dan mohon dibantu untuk pengukuran tanah, karena mau dibikinkankan sertifikat. Lurah Wulauan hanya menjawab, untuk itu nanti saja dulu. Kata lurah kepada saya,” ungkap Siska yang saat itu katanya yang penuh tanda tanya dengan perilaku lurah Wulauan

“Namun, nantinya setelah saya bertanya-tanya kepada orang-orang yang menggarap tanah kami di sekitar situ, mereka akhirnya ngomong. Kata mereka tanah tersebut telah dikuasai oleh orang penting yang kini tinggal di Kampung Jawa, namanya Uchek Buhari. Sampai sejauh ini saya belum ketemu dengan beliau karena tidak ada yang pernah memberi tahu mengenai profil nya orang penting tersebut,” kata Siska dengan logat Jakarta nya yang sangat kental, yang sekaligus menutup cerita pengalamannya terhadap pengalaman Siska menelusuri tanahnya yang ada di kelurahan Wulauan.

“Lain pula halnya, respon yang ditunjukan oleh lurah Kendis. Menurut saya, awalnya kesannya lurah Kendis membantu saya, tapi setelah 4 kali pertemuan dengan saya sikap lurahnya itu jadi berubah. Kesannya, kelihatannya ada yang ditutup-tutupi. Sudah saya tidak dikasih lihat register tanahnya, malahan saya dibentak-bentak pula. Mirisnya lagi, kata lurah kepada saya, bahwa lurah sudah mengintip register itu, jadi kata lurah kepada saya, kamu tidak usah lihat register itu lagi. Dan lurah pun berpesan, untuk tanah yang di Kendis itu kamu iklasin saja, nggak usah dikorek-korek, nanti saya bantu untuk pengambilan kembali tanah-tanah yang di Werot dan di Lelema yang dikuasai oleh Harry Paat”, ujar Siska menirukan gaya bicara dan gerak badan lurah kepada dirinya saat itu.

Tanah yang terletak di Samping Gereja Gmim Kendis Ini adalah Milik Lurah. Menurut Lurah tanah ini adalah dahulunya milik opanya keluarga Paruntu,

Lagi,  menurut Siska berdasarkan informasi yang diperolehnya, diduga ibu lurah sendiri yang diduganya telah menyerobot tanah yang diklaim milik keluarga Sampouw tersebut, karena ternyata menurut kesaksian warga yang dijumpai nya dan bahkan keterangan yang diberikan saudara lurah sendiri, lurah telah mendirikan rumah di atas tanah yang diklaim milik keluarga Siska Sampouw tersebut.

“Lurah juga katanya warga, telah membuat rumah di tanah yang kami klaim itu,” kata Siska.

“Di depan lurah dan mama saya, surat kepemilikan yang ditunjukan Harry Paat saat itu, suratnya hanya sepenggal. Dan saya lihat surat yang ada pada Harry Paat itu, dibuat tanpa ada tulisan tanggal dan tahun pembuatan surat tersebut. Dan herannya lagi, Harry Paat saat ketemu saya di depan lurah dia ngomongnya bahwa ayah saya Jacobus Sampouw katanya sudah meninggal dunia’, tutur Siska geram.

Ketika awak media mengunjungi lurah Kendis dan menyodorkan sejumlah pertanyaan dugaan penyerobotan yang dilakukan oleh lurah, sontak saja lurah membantahnya dengan raut muka yang terlihat marah.

Saat Tim Media Melakukan Klarifikasi ke Lurah Kendis dan Mengunjungi Lokasi Tanah Milik keluarga Jacobus Sampouw

“Pertama saya mau katakan bahwa saya tidak pernah membentak Siska. Dan saya melayani Siska dengan baik bukan seperti yang dikatakan Siska yaitu tidak melayani dia. Siska itu munafik,” kata Lurah.

“Saya sebagai pemerintah kelurahan, waktu Siska datang ke kantor lurah, saya menelepon memanggil Harry Paat untuk pertemukan dengan Siska Sampouw. Maksud saya pertemukan Harry Paat dengan Siska karena Harry Paat juga memegang bukti walau hanya sepenggal kertas. Tapi sayang saya tak sempat mengcopy surat yang dimiliki Harry Paat itu,’ kata lurah Kendis.

Lanjut lurah Kendis, “Saya bahkan Camat pun dalam  hal ini tidak bisa memutuskan apakah bukti yang ada di pihak Siska ataupun pada pihak Harry Paat yang sah, hanya pengadilan yang bisa memutuskan keabsahan itu. Kalau mengenai mau buka register, itu ‘kan tidak sembarang. Jadi saya meminta surat. Dan jika kasus ini sudah di pengadilan silahkan bawa register tersebut. Mengenai register, sepengetahuan saya ayahnya Siska dulu pernah membukanya, sesuai dengan surat yang ada di kelurahan,” ujar lurah kepada sejumlah wartawan.

“Dan mengenai adanya isu, saya mendirikan rumah di bidang tanah yang dikalim milik Siska Sampouw itu, tidak ada. Berbatasan. Berbatasan dengan Paruntu. Itu orang yang tinggal di situ sudah rambut putih ada 2 rumah, yang 1 di depan dan 1 di belakang. Kintal yang dikatakan Siska, milik kami disebelahnya, bukan kintal itu. Berbatasan dengan itu Paruntu, opa Paruntu itu opa saya. Jadi torang tinggal di situ, bukan seperti yang disampaikan Siska. Mereka itu ke Jakarta tahun 1962, dan yang sempat saya tahu, sejak tahun 1962 sudah ada orang yang tinggal di tanah yang diklaim keluarga Siska Sampouw itu,” bantah lurah.

Tim Media Telusur News, dan LSM KPKN Bersama Lurah Kendis

“Tanah Gereja Gmim Tumou Tou Kendis itupun yang dikatakan mereka itu, tidak masuk dalam bagian mereka. Saya tegaskan itu adalah bukan milik mereka. Gereja itu bukan kintal mereka. Tanah mereka itu berbentuk L, jadi yang mungkin termasuk adalah TK dan depan gereja. Dalam register pun ditulis  Berbatasan dengan Timur adalah keluarga Paruntu, Paruntu itu punya opa saya,” tegas lurah.

Tanah Gereja Gmim Kendis Yang Diklaim Masuk Sebagai Milik Keluarga Sampouw

Ketika ditanyakan, apakah benar lurah terlibat dengan memberikan keluasan kepada seseorang untuk menjual lahan yang dikalim milik Siska Sampouw, jawab lurah dia tidak pernah memberikan keluasan kepada siapapun.

Menyikapi permasalahan pendudukan tanah oleh orang lain terhadap milik keluarga Sampouw tersebut, kepada media ini Keluarga Jacobus Sampouw berharap agar kepada semua yang menduduki tanah-tanah yang diklaim telah jadi milik mereka itu, agar segera menyadari kesalahannya dan mengembalikan apa yang bukan menjadi hak milik mereka itu, karena mereka menduduki tanah itu secara illegal.

Lurah Kendis kepada tim media yang berkunjung ke rumahnya baru-baru ini, mengaku tidak bisa memastikan apakah bukti-bukti yang ada pada Siska Sampouw maupun yang ada pada Harry Paat bisa dipakai untuk pembuktian pemilikan tanah. Namun Berdasarkan hasil investigasi yang dirangkum media ini, bukti-bukti yang dimiliki keluarga Jacobus Sampouw lebih banyak dan lebih kuat dibandingkan dengan bukti yang ada pada Harry Paat yang diragukan keberadaannya. Surat sepenggal bukti kepemilikan Harry Paat Diduga dibuat tanpa sepengetahuan para ahli waris, karena isinya tidak jelas dan tidak dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan bukti yang disimpan oleh pihak keluarga Sampouw.

Bukti-bukti yang dipegang dan yang dimiliki oleh Jacobus Sampouw yang ada hingga kini menjadi lebih kuat dengan bukti pernah dibuatnya surat klaim tanah di Kelurahan Kendis yang menerangkan bahwa tanah itu milik dari anak-anaknya Jan Maalangen Sampouw (alm) yaitu termasuk salah satunya Jacobus Sampouw. Dalam surat itu jelas dituliskan sebidang tanah yang terletak di Kendis adalah warisan milik keluarga Sampouw.

 

SURAT KLAIM TANAH YANG DIBUAT OLEH KUASA HUKUM KELUARGA PENERIMA WARISAN TANAH KELUARGA SAMPOUW, CHARLES SAMPOUW SH PADA TAHUN 2002

Surat Klaim sebidang tanah desa Reg. No 49, Folio No.13 Tahun 1914 dibuat oleh Kuasa Hukum Para Ahli Waris Charles B. Sampouw SH, Tertanggal 29 November 2002, Sebagai tembusan 1.) Kepala kantor Badan Pertanahan Nasional 2.) Kepala Kantor Wilayah Kecamatan Tondano Timur 3.) Para Ahli Waris Jan Maalangen Sampouw (alm)

Isi surat klaim tanah tersebut berisi, keterangan-keterangan yang menerangkan bahwa :

  1. Tanah claim adalah milik ayahanda Almarhum Jan Maalangan Sampouw.
  2. Jan Maalangan Sampouw memperoleh tanah tersebut sebagai warisan dari Charles Sampouw (Etor) dan Penina Koroh.
  3. Jan Maalangen Sampouw telah mengelolah tanah dimaksud pada tahun 1923 namun ditinggalkan kosong tanpa bangunan sama sekali pada tahun 1928 karena merantau keluar Minahasa
  4. Bahwa sejak tahun 1928 hingga tahun 1988 belum ada bangunan di atas tanah tersebut
  5. Bahwa oleh karena kintal tersebut di atas adalah kintal kalakeran maka menurut undang-undang dan hukum adat Minahasa, seluruh Client kami adalah ahli waris sah dari Jan Maalangen Sampouw.
  6. Bahwa pada tanggal 9 Januari 1989 atas permintaan pengacara Charles B Sampouw SH dan Jacobus Sampouw telah dibuka buku register/garisan tanah desa kelurahan Kendis tahun 1914 . Ternyata tanah desa No. 49 dengan Folio N0.13 dengan pemilik tanah Charles Sampouw sekaligus sebagai pemakai tanah.
  7. Bahwa luas ukuran dan luas tanah claim serta batasnya adalah
  • Sebelah Utara adalah jalan
  • Sebelah Timur adalah Musa Paruntu, Johan Paruntu
  • Sebelah Selatan adalah Jendrik Angkol
  • Sebelah Barat adalah Hendrik Lodewyk Pangalila

Dan ditanda tangani pada 25 April 1989 oleh YRB. Lumoindong sebagai kepala desa Kendis NIP 010 140 223 beserta Sekretaris Desa Kendis.

  1. Bahwa baik Charles Sumampouw (lahir tahun 1876) maupun Jan Maalange Sampouw (meninggal tahun 1967) dan para ahli warisnya tidak pernah nebgalihkan hak milik atas tanah kintal dimaksud kepada siapapun juga hingga dengan saat ini, dan belum pernah bermaksud mengalihkan atau menjual tanah kintal tersebut kepada siapapun juga.
  2. Bahwa sementara itu, status kepemilihan harus mendapat perlindungan hukum atas dasar kekuatan hukum adat tanah Minahasa.
  3. Jan Maalangen Sumampouw adalah anak tunggal lelaki hasil perkawinan antara Charles Sampouw (alm) dan Pemina Koroh(alm), maka satu-satunya peninggalan berupa tanah pusaka diwariskan kepada Jan Maalangen Sampouw(alm) sebagai berikut:
  4. Berita acara dari kecamatan Tondano, kelurahan Kendis tertanggal Senin, 9 Januari 1989, dimana dibuka Register/garis tanah Desa kelurahan Kendis tahun 1914, No 49/Folio No.13 di tanda tangani oleh lurah desa Kendis, YRB Lumoindong.
  5. Surat wasiat dari Jan Maalangen Sampouw di Makassar tertanggal 27 November 1963
  6. Menurut surat wasiat Jan Maalangen Sampouw, dapat diperoleh keterangan dari Kel. Pesik – Supit(tante Coby) dan dari anak Dinan Kamasi di kampung Kendis. (isteri dari Wilter Tangkudung). Juga keterangan dari hukum tua Kendis dan kaum kerabat di Tondano.                                                                                                                                        (Surat Klaim tanah keluarga Sampouw ini diketik sesuai dengan aslinya, terlampir dalam pemberitaan)

SURAT KLAIM YANG DIDAPATKAN OLEH TIM MEDIA

Lampiran 1 Surat Klaim Tanah di Kelurahan Kendis Kecamatan Tondano Timur
Lampiran 2 Surat Klaim Tanah di Kelurahan Kendis Kecamatan Tondano Timur
Lampiran 3 Surat Klaim Tanah di Kelurahan Kendis Kecamatan Tondano Timur
Lampiran 4 Surat Klaim Tanah di Kelurahan Kendis Kecamatan Tondano Timur
Lampiran 1 Surat Klaim Tanah di Kelurahan Kendis Kecamatan Tondano Timur

(Wil Wongkar)

 

TINGGALKAN KOMENTAR